Senin, 23 November 2009

IBD

EMPU DAN PENGRAJIN KERIS:

Di Jawa Tinggal Satu, di Bali Tinggal Tiga

Di Solo ada cukup banyak pembuat keris namun mereka ini dengan tegas dan keras tidak mau disebut empu. Mengapa? Mereka hanya mau disebut sebagai pengrajin keris meskipun karyanya dari sudut seni keris sudah sangat indah dan rapi.

Mereka ini antara lain M.Ng.H. Pauzan Pusposukadgo dan Hajar Satoto, menurut me reka untuk menjadi empu perlu punya kemam puan spiritual dan untuk ini harus menjalani laku tapa dan macam-macam latihan rohani ke jawen. Selain itu membuat keris klasik/tradi sional yang sesuai dengan pribadi pemesan dan punya "isi" perlu waktu yang lama, setahun mungkin hanya bisa membuat 2-3 buah keris dengan biaya mahal.

Jadi membuat keris klasik di samping per lu keahlian khusus juga tidak ekonomis untuk suatu usaha yang bisa memberi keuntungan mencukupi untuk mendukung keluarganya. Se bagai pengrajin keris maka titik beratnya adalah karya seni yang bisa dipasarkan dalam waktu singkat dan jumiahnya mencukupi untuk ke langsungan usaha. Sesuai kriteria ini maka di Madura telah terbit belasan pengrajin keris yang bisa membuat keris dalam waktu seminggu atau kurang, dan saat ini produk mereka memang sudah membanjiri pasar. Tentang mutu seninya cukup dipuji orang namun untuk mutu bahannya memang jauh di bawah keris klasik.

Djeno Harumbrodjo, Yogyakarta

Kalangan pakar dan penggemar mengakui bahwa empu yang ada di Jawa saat ini tinggal satu, yaitu Empu Djeno Harumbrodjo yang tinggal di desa Gatak, Sleman Yogyakarta (15 km barat Yogya) dari silsilahnya empu ini memang keturunan ke 15 dari Empu Supo pada jaman kerajaan majapahit (abad 13).

Empu Djeno yang umurnya sudah sekitar 65 tahun masih melestarikan pembuatan keris secara tradisional yang mengandung karya seni profan maupun spiritual. Empu ini di masa mu danya nyaris tidak melanjutkan karya ayahnya Empu Supowinangun sebab dia hanya meru pakan anak bungsu dari lima anak Empu Sup winangun. Namun panggilan yang muncul da lam mimpinya yang pertama dan kedua tak ditanggapinya, barulah setelah muncul untuk ke-3 kalinya dia tergugah untuk memenuhi bi sikan ayah dalam mimpinya.

Membuat keris klasik memang lama dan harus konsentrasi penuh sambil "nglakoni" mutih atau puasa penuh. Untuk satu keris harus dipanasi, ditempa, dilipat bisa sampai ratusan kali sehingga bisa makan arang kayu jati sekitar 50 karung, besi 12 kg, baja 0,5 kg dan pamor 100 gram, kalau sudah menjadi keris tinggal sekitar 1 kilogram karena mengalami penyu sutan akibat pemasan dan penempaan yang ra tusan kali itu. Empu Djeno di samping mene rima pesanan dari pihak Keraton Yogyakarta (Sri Sultan Hamengku Buwono IX) juga membuat keris banyak pejabat Rl setingkat menteri, di samping itu menerima banyak pesanan dari Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Inggris dan lain lain. Antriannya saat ini sudah sampai tahun 2002, sehingga kalau kita ni memesan pada bulan Juni yang lalu maka baru bisa dipenuhi empu Djeno pada tahun 2003.

Di samping membuat keris klasik dia juga membuat keris souvenir yang memang lebih cepat selesai. Tentang mutunya, baik besi-baja maupun pamornya tak beda dengan keris tradisional yang punya "isi" sesuai dengan kebutuhan pemesannya.

Mangku Ketut Sandi, Bali

Sedang empu yang ada di Bali diperkirakan tinggal sekitar 3 orang, lebih banyak sebab keris di masyarakat Bali masih punya kedudukan tinggi dalam agama dan adat, sehingga keris merupakan salah satu kebutuhan keluarga Hindu Bali. Di samping sebagai senjata dan keris juga dianggap sebagai benda yang mempunyai kekuatan spiritual sehingga bisa menjadi pelindung ketika berpergian, untuk usaha, tanda pengabdian kepada raja, untuk menjaga keselamatan rumah tangga, untuk sarana penyembuhan seorang dukun dan khususnya untuk upacara keagamaan. Untuk yang terakhir ini maka keris mempunyai 6 fungsi berbeda.

Banyaknya fungsifungsi ini nampaknya telah mendesak para empu di Bali untuk lebih mementingkan manfaat spiritual keris (kekuatan magis) dari pada karya seni (keindahannya) se hingga bagian yang paling sulit dibuat yaitu pa mor keris tidak mendapat penekanan sedang untuk segi keindahannya ditekankan pada pe nampilan luarnya yaitu dekorasi: wadah (we rangka), pelokan (pangkal wadah), hulu, cincin ujung hulu dan lain lain. Bagian-bagian ini bisa dibuat dari emas, perak, gading, kayu langka dan dihiasi dengan ukiran dan batu permata. Hanya keris untuk tokoh-tokoh masyarakat dan agama yang dibuat bagus, baik dekorasi mau pun bilahnya.

Pengrajin dekorasi keris yang terkenal di Bali adalah Wayan Tika di Banjar Pande, Bangli. Pengrajin ini sudah lama menjadi langganan Istana Negara karena keris Bali yang sering menjadi cinderamata Presiden kepada para tamu agung berasal dari karya Wayan Tika ini. Jumiah pengrajin dekorasi keris lebih banyak, 6 orang lebih dan tersebar di seluruh Bali. Oleh karena fungsi keris dalam masyarakat Hindu Bali macam-macam, khususnya yang berhubungan dengan kehidupan keluarga Bali dan upacara agama, maka empu keris pada umumnya berpangkat pembantu pendeta (mangku) atau malah pendeta misalnya empu Mangku Ketut Sandi di Tatasan Denpasar.

Mangku Ketut Sandi (65 tahun) ketika muda sebenarnya tak bercitacita menjadi "mangku" atau pembantu pendeta. Dia ingin membangun usaha di bidang kerajinan mem buat gamelan, seni tari dan musik gamelan. Menjadi pembantu pendeta menurut penilaian dia saat itu tidak bisa menjadi orang kaya, pa dahal dia ingin membahagiakan keluarganya. Namun tahun 1958 Ketut Sandi mendapat macammacam penyakit yang susah diobati, saat itulah dia merasa mendapat panggilan untuk menjadi pembantu pendeta dan dia menyanggupi.

Mulailah pendidikan diri untuk menjadi mangku, menjadi pelayan Tuhan dan masya rakat. Untuk ini dia harus membersihkan diri dengan bertapabrata pada beberapa puncak gunung di Bali dan Jawa. Ketekunannya dalam latihan bathin ternyata tidak hanya membawa dia sebagai mangku tetapi juga sebagai orang pinter yang bisa mengobati penyakit (dukun), tahun 1961 dia diangkat sebagai pemangku Pura Pande Dalem Majepahit banjar Tatasan Denpasar. Namun profesinya sebagai dukun tahun 1987 tak boleh dilanjutkan, karena harus menekuni pelayanan sebagai pembantu pen deta. Namun kebolehannya sebagai pengrajin keris, pembuatgamelan, penabuh gamelan dan penari masih boleh dilanjutkan hingga saat ini. Latihan bathin untuk menjadi mangku telah memberi kemampuan untuk bisa memberi "isi" suatu keris yang dibuatnya maka jadilah dia seorang empu.

Ketut Sandi yang berputera 6 orang dan bercucu 3 sudah menekuni profesinya sebagai pengrajin gamelan dan keris sejak 1951 sudah lebih 500 keris dan tombak dihasilkan dan ga melannya sudah di ekspor ke Jepang, Perancis, Brasil, dan sudah menjadi langganan Departemen Transmigrasi. Ternyata menjadi mangku itu tidak berarti hidup dalam kemiskinan.

Sedangsebagai pamangku diasudah berkeliling daerah luar Bali untuk memberkati pura-pura yang dibangun. Kalau banyak pesanan dia punya 30 karyawan, kalau sedang sepi hanya 6 orang yang membantunya. Untuk membuat keris berpamor hanya dibutuhkan waktu 20 hari namun untuk membuat keris ber"isi" perlu 3-4 bulan. Inilah yang menyulitkan pembagian waktu untuk memenuhi banyak pesanan keris dan gamelan.

Hajar Satoto, Sala

Hajar Satoto (45 tahun) keturunan seni man serba bisa sebab ayahnya seorang dalang, seniman sungging wayang dan guru seni. Sekarang Hajar Satoto juga menggeluti profesi sebagai seniman serba bisa dan antara lain sebagai pengrajin keris. Pendidikan formalnya adalah seniman patung lulusan STSRI ASRI Yogyakarta namun pengenalannya atas pelbagai karya seni Jawa telah menggugah hatinya untuk ikut menggali karya adiluhung keris dan senjata tradisional lainnya (tosan aji). Tosan aji tak kalah dengan karya seni dunia seperti porselin cina, patung dan lukisan, maka karya adilu hung ini harus terus digali dan dikembangkan.

Pemikiran inilah yang mendorong Totok (panggilan Hajar Satoto) yang juga seniman tari, karawitan, patung, interiordan multi media tradisional untuk menggeluti perkerisan. Wayang menurut Totok adalah karya multimedia para seniman Jawa beberapa abad yang lalu sebab dalam wayang bisa ditemui seni tari, musik, opera, lukis, dekorasi, komunikasi, filsafat dan bahkan penyuluhan dan propaganda/kampanye. Itulah salah satu kebangaan Totok akan seni nenek moyangnya, dan oleh karena itu di betekad untuk semakin menggumuli dan semakin mendalami.

Dengan titik tolak menggali khasanah seni budaya Jawa, Totok ingin menunjukkan bahwa seni Jawa itu mampu mandiri dan mendapat tempat dalam masyarakat modern. Mandiri dalam arti seni budaya itu mampu mengangkat si seniman untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup dan kawanya, dan juga mandiri dalam arti seni budaya Jawa itu sendiri akan mampu merebut hati masyarakat modern, keberadaannya akan terus dilestarikan dan kiprahnya akan memperoleh perhatian masyarakat. Masa lahnya hanyalah bagaimana menyajikannya?

Oleh karena itu para seniman, khususnya budayaJawa, harus mau menggali dan kemudian berkreasi memenuhi kebutuhan masyarakat modern ini. Totok yang telah berhasil mem borong interior Pendopo Taman Budaya Su rakarta, tahun 1982 mulai menggeluti kera jinan membuat tosan aji. Hanya kerajinan membuat tosan aji, bukan menjadi "empu" ka rena Totok (dan rekan-rekan sealirannya) ingin menampilkan tosan aji sematamata sebagai se ni profan, sejajar dengan seni patung, ukir, sungging, lukis dan lain lain.

Menurut Totok di masa depan kepercayaan pada "isi" keris akan menyusutsesuai dengan kemajuan masyarakat modern yang serba teknologi tinggi. Namun karya seni profan tosan aji tak boleh ikut hilang dengan perubahan masyarakat itu. Maka seni kerajinan keris justru harus diangkat dan dikem bangkan supaya menjadi disenangi masyarakat hanya karena kebolehan seni profannya.

Dalam rangka ini Totok dan kawan-kawannya membuat inovasi dan berhasil me ngembangkan teknologi membuat pamor keris pada pembuatan gamelan, gamelan berpamor pada bilah-bilahnya. Menurut Totok bilah gamelan yang dibuat dengan banyak tempaan dalam rangka membentuk pamor ternyata menghasilkan suara lebih bagus dan lebih awet, tak perlu sering distem (diselaraskan nadanya).

Untuk memenuhi macam-macam pesanan baik tosan aji maupun gamelan berpamor Totok membangun kemitraan dengan pengrajin pande besi, pengrajin gamelan, mahasiswa akademi seni tari dan karawitan Sala dan kemudian menangani usaha pemasaran dan promosinya di masyarakat. Untuk ini karsa Kompas dan Bentara BudayaJakarta untuk mengadakan pameran tosan aji sangat didukungnya, grup Sala kan mengerahkan pasukannya, kata Totok. 'Inilah salah satu segi membangun kemandirian seniman dan seni" tegasnya. Diharapkan prakarsa Kompas dan BBJ akan membuka pasar an sekaligus membuka macam-macam lapangan kerja baru dalam kerajinan dekorasi tosan aji, kerajinan wilah, gamelan, wrangka, hulu keris, pelok keris, dan lain lain.

Wayan Tika, Bali

Wayan Tika (58 tahun) yang keturunan pengrajin perhiasan semula tak ingin menjadi pengrajin, dia ingin menjadi pedagang barang-barang yang bisa memberi untung besar. Maka mulai 1968 dipilihlah profesi pedagang acung keris, dengan membeli 2-3 keris dari keluarga keluarga Bali; mulailah dia mengacungkan da gangannya kepada para turis asing. Lalu mun cullah ide untuk merenovasi keris maupun de korasinya supaya harga bisa lebih mahal, wilah an keris ditambah dengan ukiran atau diselaputi emas (kinatah emas) sedang hulu, wadah, pe lokan diganti dengan perhiasan mewah mi salnya hulunya dibuat dari gading atau emas bertatahkan permata atau batu mulia.

Pekerjaan sebagai pedagang acung lalu diganti dengan usaha kerajinan merenovasi ke ris dengan memanfaatkan ketrampilan yang di wariskan dari ayahnya. Karyanya mulai dikenal orang, termasuk pak Supeno kepala Rumah Tangga Istana Tampak Siring yang kemudian memperkenalkan karyanya kepada Istana Ne gara Jakarta untuk mengisi kebutuhan cindera mata bagi para tamu negara. Ketenarannya juga membawa dia mendapat pesanan 3000 keris untuk dikirim ke Belanda, baru 1000 dipenuhi ternyata pemesannya mendapat musibah se hingga pengiriman harus dihentikan.

Wayan Tika yang mempunyai 4 putera dan 7 cucu ini sekarang punya 10 karyawan dan mempunyai 75 keris koleksi pribadi di samping ratusan keris lama dan baru dari Bali Jawa, Madura, Lombok, Nusa Tengara dan lain lain yang siap untuk dipasarkan setelah dibu atkan hulu wadah dan perhiasannya. Wayan Tika sejak tahun 1979 tak mau lagi merenovasi bilah keris karena sebelum itu dia kena suatu penyakit hampir selama setahun, sudah banyak dokter dan obat dicoba tapi tak bisa sembuh. Baru setelah mendapat pengobatan batin dengan semedi dan doa, dan berjanji untuk tidak merubah wilah keris dia bisa sembuh.

Di samping membuat dekorasi keris Bali bengkel Wayan Tika juga bisa membuat dekorasi untuk keris Jawa, Madura dan lain-lain. Banyak wilah keris Jawa diberj wadah B li ena pemesannya orang Bali atau menyukai penampilan wadah dan perhiasan keris Bali seperti Istana Negara.

Bahanbahan ini dikumpulkan oleh M.J. KASIYANTO, ARDUS M. SAWEGA (SOLO), RAKA SANTERI (BALI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar