Tahukah anda tentang Good Corporate
Governance (GCG) ? jika belum tau, Good Corporate Governance Secara umum yaitu merupakan sistem pengendalian dan pengaturan perusahaan
yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus
perusahaan (hard definition), maupun ditinjau dari "nilai-nilai" yang
terkandung dari mekanisme pengelolaan itu sendiri (soft definition).
Menurut
Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan
agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam
memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya,
dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan
pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang
berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Jadi,
menurut saya Good Corporate Governance adalah sebagai prinsip yang mengarahkan
dan mengendalikan suatu perusahaan yang dapat dilihat dilihat berdasarkan hard definition maupun soft definition untuk mempertanggung
jawabkan kepada shareholders dan stakeholders demi perkembangan
perusahaan tersebut.
Akhir-akhir
ini masalah Good Corporate Governance (GCG) dan Etika Bisnis banyak mendapat
sorotan. GCG dan Etika Bisnis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan
satu dengan lainnya. GCG lebih memfokuskan pada penciptaan nilai ( value
creation) dan penambahan nilai (value added ) bagi para pemegang saham,
sedangkan etika bisnis lebih menekankan pada pengaturan hubungan (relationship)
dengan para stakeholders. Saat ini, ternyata masih banyak perusahaan yang belum
menyadari arti pentingnya implementasi GCG dan praktik etika bisnis yang baik
bagi peningkatan kinerja perusahaan. Sebagai contoh, banyak praktek bisnis di
berbagai perusahaan yang cenderung mengabaikan etika. Pelanggaran etika memang
bisa terjadi di mana saja, termasuk dalam dunia bisnis. Untuk meraih
keuntungan,masih banyak perusahaan yang melakukan berbagai pelanggaran moral
yang tidak etis,seperti praktik curang, monopoli, persekongkolan (kolusi), dan
nepotisme seperti yang telah diatur dalam UU No. 5 tahun 1999 tentang larangan
praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Adapun
tujuan dari GCG diperlukan dalam rangka:
- Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan kewajaran.
- Mendorong pemberdayaan fungsi dan menadirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Dewan Komosaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.
- Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuahn terhadap peraturan perundang-undangan.
- Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab social perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
- Mengoptimalkan niali perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperjatikan pemangku kepentingan lainnya.
- Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun inetrnasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
Ada
dua faktor dalam GCG yaitu faktor internal dan faktor eksternal:
Faktor Internal
Maksud
faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang
berasal dari dalam perusahaan. Beberapa faktor dimaksud antara lain:
- Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan.
- Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG.
- Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah-kaidah standar GCG.
- Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.
- Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu.
Faktor Eksternal
- Pelaku dan lingkungan bisnis
Meliputi
seluruh entitas yang mempengaruhi pengelolaan perusahaan, seperti business
community atau kelompok-kelompok yang signifikan mempengaruhi kelangsungan
hidup perusahaan, serikat pekerja, mitra kerja, supplier dan pelanggan yang
menuntut perusahaan mempraktekkan bisnis yang beretika. Kelompok-kelompok di
atas dapat mempengaruhi jalannya perusahaan dengan derajat intensitas yang
berbeda-beda.
- Pemerintah dan regulator
Pemerintah dan
badan regulasi berkepentingan untuk memastikan bahwa Perusahaan mengelola
keuangan dengan benar dan mematuhi semua peraturan dan undang-undang agar
memperoleh kepercayaan pasar dan investor.
- Investor
Meliputi semua
pihak yang berkaitan dengan pemegang saham dan pelaku perdagangan saham
termasuk perusahaan investasi. Investor menuntut ditegakkannya atau dijaminnya
pengelolaan perusahaan sesuai standar dan prinsip-prinsip etika bisnis.
- Komunitas Keuangan
Meliputi semua
pihak yang berkaitan dengan persyaratan pengelolaan keuangan perusahaan
termasuk persyaratan pengelolaan perusahaan terbuka, seperti komunitas bursa
efek, Bapepam-LK, US SEC dan Departemen Keuangan RI. Setiap komunitas di atas
mengeluarkan standar pengelolaan keuangan perusahaan dan menuntut untuk
dipatuhi/dipenuhi oleh Perusahaan.
Contoh kasus yang masih menyinpang
pada Good Corporate Governance:
- Para PNS yang masih malas-malasan dalam menjalani tugas. Pernah ada berita tentang pegawai PNS yang masih malas-malasan dalam menjalani tugasnya sehari-hari. Contohnya mereka berangkat kerja siang hari dan pulang kerja sebelum jam pulang kerja, pernah juga ditemui para pegawai PNS yang berkeliaran di tempat-tempat umum pada jam kerja. Bahkan ketika apel upacara ada pegawai PNS yang tidak menghadiri apel upacara dan datang tidak tepat pada waktunya.
Ada juga kasus
tentang pelanggaran disiplin masuk kerja di salah satu kelurahan di kota Probolinggo.
Ada seorang pegawai PNS yang bernama BS, yang tidak masuk kerja dalam jangka
waktu yang lama. Dalam peraturan yang lama (PP 30 Th. 1980), apabila BS
tersebut tidak masuk lebih dari 2 bulan secara berturut-turut, baru dilakukan penghentian
gaji. Apabila pegawai yang bersangkutan tidak masuk berturut-turut selama 4
bulan ke depannya (total 6 bulan), baru bisa diproses pemberhentian BS secara
tidak hormat dari PNS. Kalau Peraturan yang baru, malah lebih tegas dan jelas
lagi. Di sini tidak perlu menunggu hingga 2 bulan, atau bahkan 6 bulan. Cukup
bagi yang bersangkutan tersebut tidak masuk lebih dari 46 hari, dan
menghitungnya tidak perlu berturut-turut alias bisa akumulasi, maka si BS tadi
bisa diproses untuk hukuman berat.
- Kasus kebangkrutan perusahaan di Amerika Serikat yang menghebohkan kalangan dunia usaha yaitu kasus Enron, Worldcom & Tycogate. Hal tersebut terjadi karena terdapat pelanggaran etika dalam berbisnis (unethical business practices), padahal Amerika termasuk negara yang sangat mengagungkan prinsip GCG dan etika bisnis. Penyebab kebangkrutan beberapa perusahaan tersebut, karena diabaikannya etika bisnis serta prinsip GCG, terutama prinsip keterbukaan, pengungkapan dan prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan perusahaan. Implementasi GCG memang tidakbisa hanya mengandalkan kepercayaan terhadap manusia sebagai pelaku bisnis dengan mengesampingkan etika. Seperti kita ketahui, sebagus apapun sistem yang berlaku diperusahaan, apabila manusia sebagai pelaksana sistem berperilaku menyimpang dan melanggar etika bisnis maka dapat menimbulkan fraud yang sangat merugikan perusahaan.Beberapa saat setelah krisis ekonomi melanda negeri kita sekitar tahun 1997 yang lalu,banyak terdapat bank-bank yang berguguran alias ditutup usahanya, sehingga termasuk kategori Bank Beku Operasi, Bank Belu Kegiatan Usaha dan Bank dalam Likuidasi. Salah satu penyebab kebangkrutan bank-bank tersebut karena perbankan Indonesia pada saat itu belum menerapkan prinsip-prinsip GCG serta etika bisnis secara konsisten. Semoga kasus kebangkrutan perusahaan di Amerika serikat serta perbankan di Indonesia tersebut, dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk diambil hikmahnya, sehingga dalam pengelolaanperusahaan tetap berpedoman pada etika bisnis yang baik serta menerapkan prinsip GCG.
ANALISIS:
1. Berdasarkan
data diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan Good Corporate Governance sangat
penting bagi perusahaan baik dari pihak internal maupun pihak eksternal untuk
meningkatkan etika dalam suatu perusahaan tersebut.
2. Perusahaan
harus lebih meningkatkan disiplin kerja bagi para pegawainya agar perusahaan
tersebut dapat berkembang maju kedepan apabila menggunakan prinsip GCG dan
lebih meningkatkan etika-etika yang baik agar tidak melalaikan suatu pekerjaan
bahkan melanggar peraturan yang tidak sesuai dengan GCG.
3. Secara
moral perusahaan yang menyimpang dari Good Corporate Governance tidak
mencerminkan tanggung jawab kepada para pemegang saham dan akan merugikan
pihak-pihak terkait, dan citra perusahaan akan di kenal buruk oleh berbagai
kalangan.
4. Perusahaan
yang melanggar seperti kasus diatas harus ditangani agar tidak melanggar etika
dan tidak merugikan pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Seharusnya
perusahaan atau instansi tersebut memberikan contoh etika yang baik kepada
kalangan masyarakat.
Sumber :
http://www.scribd.com
good
BalasHapus